Abstract

This article focuses on the talèdhèk, Javanese female street singer-dancers of the gamelan tradition, during the late nineteenth and early twentieth centuries. Their life circumstances were very different from those of the later gamelan singers, the pesindhèn. So were their vocal styles. It is likely that these are connected. Several Javanese gamelan experts described characteristics of the talèdhèk’s vocal style and compared it with the very different style of the pesindhèn. Statistical analyses of recordings corroborate their observations. To understand the lives of the talèdhèk, I gathered life histories of talèdhèk and consulted relevant ethnographic and historical literature. I posit that the talèdhèk’s musical style was a product, in large part, of their life circumstances.

Artikel ini tentang gaya vokal talèdhèk, penyanyi/penari Jawa di jalanan dan tayuban (pesta dansa) dalam tradisi gamelan pada abad ke-19 sampai abad ke-20 sebelum Perang Dunia II. Gaya vokalnya dilaporkan berbeda secara signifikan dari gaya vokal perempuan dalam tradisi gamelan dewasa ini, yang disebut sebagai pesindhèn. Apakah situasi kehidupan talèdhèk pada masa lalu dapat membantu menjelaskan mengapa gaya vokal mereka berkembang seperti itu? Guru-guru gamelan saya mengidentifikasi adanya beberapa ciri melodi kunci gaya talédhèk sebelum Perang Dunia II dan membandingkannya dengan gaya pesindhèn yang sangat berbeda. Saya mengadakan analisis statistik dari banyak rekaman talèdhèk dan pesindhèn. Analisis itu menguatkan pernyataan ahli gamelan yang tersebut. Untuk memahami kehidupan talèdhèk, saya mengumpulkan sejarah hidup para suarawati yang telah menjadi talèdhèk pada tahun-tahun sebelum perang dan merujuk pada literatur etnografi dan sejarah yang relevan. Saya berpendapat bahwa gaya vokal talèdhèk memang merupakan produk, sebagian besar, dari keadaan hidup dan situasi kinerja mereka. Saya akan mempertunjukkan bagaimana ciri-ciri karakteristik dari gaya vokal mereka secara unik dirajut seiring dengan situasi kehidupan mereka saat itu.

The text of this article is only available as a PDF.
You do not currently have access to this content.